S&R Accounting Insight · Agustus 2026

PSAK 118: Lebih dari Sekadar Perubahan Format Laporan Keuangan

Apa yang perlu mulai dipikirkan CFO dan tim finance sebelum 2027.

Pada 28 Mei 2025, Dewan Standar Akuntansi Keuangan Ikatan Akuntan Indonesia (DSAK IAI) mengesahkan PSAK 118: Penyajian dan Pengungkapan dalam Laporan Keuangan, standar yang mengadopsi ketentuan IFRS 18. Standar ini menggantikan PSAK 201 sebagai standar utama yang mengatur penyajian dan pengungkapan laporan keuangan, dan berlaku efektif untuk periode tahunan yang dimulai pada atau setelah 1 Januari 2027. Beberapa hal yang sebelumnya diatur dalam PSAK 201 tetap diatur oleh standar lain.

Sekilas, ini terlihat seperti perubahan format laporan keuangan. Namun, memperlakukan PSAK 118 semata sebagai urusan penyajian berisiko meremehkan dampaknya yang sesungguhnya.

PSAK 118 mengubah cara kinerja keuangan diklasifikasikan, disubtotalkan, dijelaskan, dan dikomunikasikan, dan jangkauannya jauh melampaui tampilan laporan laba rugi.

Perubahan paling terlihat memang ada di laporan laba rugi: PSAK 118 memperkenalkan kategori operasi, investasi, dan pendanaan, serta mewajibkan subtotal baru: laba (rugi) operasi, dan laba (rugi) sebelum pendanaan dan pajak penghasilan. Tujuannya bukan sekadar keseragaman format, tetapi konsistensi, transparansi, dan komparabilitas kinerja perusahaan yang lebih baik, antarperiode maupun antarperusahaan.

Namun ada satu perubahan lain yang mungkin justru lebih relevan bagi manajemen.

Ketika Angka Versi Manajemen Diperiksa Lebih Ketat

Banyak perusahaan menggunakan ukuran kinerja yang dianggap lebih mencerminkan cara manajemen melihat bisnisnya: Adjusted EBITDA, Adjusted Operating Profit, Core Profit, Underlying Profit, Recurring Profit, dan ukuran sejenis.

Ukuran ini dapat memberi informasi tambahan yang berguna. Masalahnya, karena ditentukan sendiri oleh manajemen, komposisinya sering berbeda antarperusahaan, bahkan antarperiode di perusahaan yang sama.

PSAK 118 memberi perhatian khusus pada hal ini melalui konsep Ukuran Kinerja Tetapan Manajemen (UKTM), yang secara internasional dikenal sebagai Management-Defined Performance Measures (MPMs). Ukuran yang memenuhi kriteria UKTM/MPM tunduk pada persyaratan pengungkapan tertentu, termasuk bagaimana ukuran itu dihitung dan bagaimana rekonsiliasinya terhadap subtotal atau total yang paling sebanding secara langsung sebagaimana ditentukan standar.

Jadi persoalannya bukan apakah manajemen masih boleh memakai ukuran kinerja versi sendiri. Persoalannya adalah seberapa transparan hubungan antara ukuran tersebut dengan angka yang dilaporkan berdasarkan PSAK.

Bagi investor, ini memberi gambaran yang lebih jelas mengenai bagaimana manajemen mendefinisikan kinerja yang mendasari bisnisnya. Bagi manajemen, konsekuensinya adalah kebutuhan memastikan setiap ukuran memiliki dasar yang dapat dipertanggungjawabkan, definisi yang jelas, dan rekonsiliasi yang tahan uji, bukan sekadar angka yang "terasa lebih mewakili."

Pertanyaan yang Lebih Penting: Apa Itu Kinerja Operasi?

Salah satu perubahan paling fundamental di PSAK 118 adalah pengenalan kategori operasi, investasi, dan pendanaan dalam laporan laba rugi. Laba operasi kini menjadi subtotal yang didefinisikan dan diwajibkan standar bagi sebagian besar entitas, langkah signifikan menuju komparabilitas dibandingkan format yang selama ini relatif bebas digunakan perusahaan. Entitas dengan aktivitas bisnis utama tertentu, seperti menyediakan pembiayaan atau berinvestasi, tunduk pada ketentuan yang dimodifikasi sesuai sifat aktivitas tersebut.

Namun di balik struktur yang lebih terstandardisasi ini, muncul pertanyaan yang jauh lebih substantif:

"Apa yang sebenarnya merupakan aktivitas operasi perusahaan ini?"

Jawabannya tidak selalu bisa diperoleh hanya dari nama akun di general ledger. Karakteristik bisnis, aktivitas utama, sifat transaksi, dan judgement dalam penerapan standar semuanya memengaruhi bagaimana penghasilan dan beban diklasifikasikan.

Ini menjadi sangat relevan bagi perusahaan dengan beberapa lini bisnis, aktivitas investasi atau pendanaan yang signifikan, transaksi non-rutin, restrukturisasi, atau yang memakai berbagai ukuran kinerja secara internal maupun eksternal. Semakin kompleks bisnisnya, semakin besar ruang judgement, dan semakin besar pula pengaruhnya terhadap bagaimana pasar memahami kinerja operasi perusahaan.

Laporan Keuangan Hanyalah Ujung dari Rantai yang Lebih Panjang

Laporan keuangan adalah output yang terlihat. Tapi output itu lahir dari rangkaian informasi dan proses yang jauh lebih panjang:

Accounting Policies General Ledger Chart of Accounts Classification Management Reporting Performance Measures Data & Systems Financial Statements Disclosures

Karena itu, pertanyaan yang relevan bagi CFO bukan sekadar: "Apakah laporan keuangan kami bisa disusun sesuai PSAK 118?"

Pertanyaan yang lebih strategis adalah: "Apakah informasi yang mendasari laporan keuangan kami mampu menghasilkan penyajian dan pengungkapan yang dibutuhkan PSAK 118?"

Bedanya penting. Sebuah perusahaan bisa saja memiliki format laporan keuangan yang terlihat sudah sesuai, tapi tetap bermasalah karena informasi pendukung untuk klasifikasi, subtotal, UKTM/MPMs, atau pengungkapan tidak tersedia secara memadai. Di titik inilah PSAK 118 bisa berkembang dari sekadar persoalan pelaporan keuangan menjadi persoalan transformasi pelaporan.

PSAK 118 juga memberi penekanan lebih besar pada bagaimana informasi diagregasi dan didisagregasi, memperkuat kebutuhan untuk memahami bukan hanya apa yang dilaporkan, tetapi bagaimana informasi yang mendasarinya dikelompokkan dan disajikan.

Dampaknya pun tidak berhenti di fungsi akuntansi. Bisa meluas ke Finance, FP&A, management reporting, investor relations, data, dan sistem, terutama karena management reporting sering punya tujuan dan definisi yang berbeda dari financial reporting. Ketika keduanya harus bicara dalam "bahasa" PSAK 118 yang sama, hubungan antara cara manajemen memandang kinerja dan kinerja keuangan yang dilaporkan menjadi jauh lebih diperhatikan.

2026 Bukan Sekadar "Tahun Sebelum PSAK 118"

PSAK 118 berlaku efektif untuk periode tahunan yang dimulai pada atau setelah 1 Januari 2027, tapi persiapan tidak seharusnya dimulai saat laporan keuangan 2027 mulai ditutup.

Salah satu alasannya: kebutuhan informasi komparatif. Penerapan pertama kali atas struktur baru mengharuskan angka periode sebelumnya disajikan dengan basis yang konsisten dengan PSAK 118; ketentuan transisi yang spesifik menentukan bagaimana hal itu dilakukan. Artinya, perusahaan perlu memahami sejak 2026 bagaimana informasi historis mereka perlu diperlakukan di bawah kerangka baru ini.

2027 adalah tanggal efektif. 2026 adalah tahun persiapan.

Perusahaan yang menunggu sampai 2027 berisiko baru menyadari, terlambat, bahwa informasi yang dibutuhkan untuk pengungkapan komparatif, klasifikasi, atau persyaratan lain ternyata tidak tersedia dalam bentuk yang diperlukan. Persiapan lebih awal memberi ruang untuk menemukan persoalan ini sebelum menjadi masalah saat pelaporan berlangsung.

Apa yang Perlu Dilakukan CFO di 2026
  1. Memetakan klasifikasi penghasilan dan beban saat ini terhadap persyaratan penyajian baru.
  2. Mengidentifikasi ukuran kinerja tetapan manajemen (UKTM/MPMs) yang digunakan dalam komunikasi publik.
  3. Menilai apakah informasi 2026 dapat mendukung kebutuhan informasi komparatif yang dipersyaratkan.
  4. Menguji apakah proses dan sistem pelaporan dapat menghasilkan informasi yang dibutuhkan untuk pengungkapan PSAK 118.

Area yang Berpotensi Diremehkan

Besarnya pekerjaan implementasi akan berbeda antarperusahaan, tapi beberapa area ini konsisten berisiko diremehkan:

  • Comparative Information
    Perubahan tidak berhenti di angka tahun berjalan; informasi historis perlu diperhatikan sejak awal.
  • Classification
    Memahami bagaimana aktivitas dan transaksi yang ada berhubungan dengan struktur baru PSAK 118.
  • Management Performance Measures
    Ukuran seperti Adjusted EBITDA atau Underlying Profit dapat masuk dalam cakupan UKTM/MPMs apabila memenuhi kriteria yang berlaku, sering kali tanpa disiplin pengungkapan seketat yang kini disyaratkan PSAK 118.
  • Management Reporting
    Pelaporan internal dan pelaporan keuangan eksternal bisa jadi selama ini menggunakan definisi dan struktur yang berbeda.
  • Information & Systems
    Laporan keuangan hanya sebaik informasi yang tersedia untuk menyusunnya. Jika arsitektur sistem dan proses pelaporan tidak menghasilkan data yang dibutuhkan, perubahan di tahap penyajian akhir saja tidak akan cukup.

Pertanyaan yang Sebaiknya Mulai Ditanyakan CFO

  1. Apakah struktur pelaporan saat ini mampu mendukung klasifikasi dan subtotal yang dipersyaratkan PSAK 118?
  2. Apakah ukuran kinerja yang dikomunikasikan manajemen kepada para pemangku kepentingan sudah didefinisikan secara konsisten?
  3. Apakah informasi 2026 sudah memadai untuk mendukung kebutuhan informasi komparatif?
  4. Apakah management reporting dan financial reporting menyampaikan gambaran kinerja yang konsisten satu sama lain?
  5. Di area mana perusahaan akan menghadapi judgement paling signifikan dalam menerapkan PSAK 118?

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini akan menentukan apakah transisi PSAK 118 cukup dengan perubahan penyajian, atau membutuhkan perhatian yang lebih luas terhadap proses pelaporan, alur informasi, UKTM/MPMs, data, sistem, dan praktik pengungkapan.

Implikasi bagi Auditor

Perubahan struktur penyajian dan peningkatan pengungkapan atas UKTM/MPMs akan meningkatkan perhatian pada area yang membutuhkan judgement dan konsistensi, antara lain: klasifikasi penghasilan dan beban, penentuan aktivitas operasi, UKTM/MPMs, rekonsiliasi, agregasi dan disagregasi, informasi komparatif, serta konsistensi antara laporan keuangan dan informasi kinerja yang dikomunikasikan ke publik.

Ini bukan berarti seluruh pendekatan audit berubah. Tapi area di mana manajemen menjalankan judgement dan menjelaskan kinerja akan menjadi semakin penting dalam proses financial reporting maupun audit, yang pada gilirannya memperkuat pentingnya memastikan dasar penyajian dan pengungkapan sudah dipahami dan didukung informasi yang memadai.

Dari Compliance Menuju Reporting Quality

PSAK 118 sebaiknya tidak dilihat semata sebagai kewajiban mengubah format laporan keuangan. Ini bagian dari upaya lebih luas untuk memperbaiki cara kinerja keuangan dikomunikasikan kepada penggunanya.

Bagi perusahaan, transisi ini bisa menjadi tantangan, sekaligus kesempatan untuk mempertanyakan kembali: apakah informasi yang selama ini dipakai manajemen untuk memahami, mengukur, dan menjelaskan kinerja perusahaan sudah memiliki fondasi yang memadai?

Pertanyaan ini membawa PSAK 118 keluar dari wilayah penyajian semata, masuk ke wilayah kualitas informasi, management reporting, governance, dan informasi keuangan yang berguna bagi pengambilan keputusan.

S&R Perspective

Kesiapan Diukur dari Reporting Environment, Bukan dari Format

PSAK 118 membawa perubahan penting pada penyajian laporan laba rugi dan pengungkapan laporan keuangan. Namun dampak aktualnya pada tiap perusahaan akan bergantung pada karakteristik bisnis, aktivitas, struktur pelaporan, UKTM/MPMs, sistem informasi, dan praktik pelaporan yang berlaku.

Karena itu, kesiapan PSAK 118 sebaiknya tidak hanya dinilai dari apakah format laporan keuangan baru sudah tersedia, tapi apakah reporting environment perusahaan mampu menghasilkan informasi yang konsisten, dapat ditelusuri, dan dapat dipertanggungjawabkan dalam kerangka PSAK 118.

S&R akan terus membahas implikasi PSAK 118, termasuk bagaimana perubahan ini memengaruhi klasifikasi, UKTM/MPMs, pengungkapan, dan area judgement dalam praktik.

Kesiapan PSAK 118

S&R dapat membantu tim finance menilai implikasi PSAK 118 pada klasifikasi, UKTM/MPMs, informasi komparatif, proses pelaporan, data, dan pengungkapan.

Diskusikan Kesiapan Anda →

Catatan teknis: Artikel ini mencerminkan informasi yang tersedia hingga Agustus 2026. Perusahaan disarankan mempertimbangkan ketentuan PSAK terkini dan panduan implementasi terbaru saat menilai situasi spesifik mereka.

YBS

Yulius Bayu Susilo Harto, MBA, CA, CPA, FCPA (Aust.)

Managing Partner, KAP Susilo & Rekan

Yulius menulis mengenai standar pelaporan keuangan, praktik audit, dan kualitas pelaporan untuk S&R Accounting Insight.

S&R
Audit & Assurance · Accounting · Tax · Business & Financial Advisory · Sustainability
Clarity for Complex Business Matters